Alasan “Kayu Jati” Mendasari Kata “Sejati” dan “Jati Diri”

‘Sejati’ dan ‘jati diri’ adalah kata yang terlampau umum digunakan dalam bahasa Indonesia. Mungkin saking umumnya, pakar bahasa Indonesia tidak tertarik untuk menggali arti etomologinya. Karena dalam upaya aku melacak memahami Info mengenai hal ini di google, kebanyakan yang nampak adalah postingan mengenai definisi ‘sejati’ dan ‘jati diri’ dalam tinjauan faktor ilmu sosial maupun filsafat. Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online pun menambahkan jawaban serupa. ‘jati diri’ – situasi atau ciri khusus seseorang; identitas; pas untuk kata ‘sejati’: /sejati /lihat 1jati. Sampai di sini, aku berpikir… barangkali penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia tidak hanyalah dilimpahkan kepada guru atau tenaga pengajar, tetapi termasuk karena kurangnya mendalamnya materi pelajaran yang diberikan. Tapi terkecuali kita sudi jujur, kenyataannya memang, di Indonesia ini masih terlampau kurang orang-orang yang sudi menulis suatu hal topik atau objek secara mendalam, sampai tiba pada titik di mana tidak tersedia ulang pertanyaan yang timbul sehabis itu. Jadi aku pikir, mengenai masih rendahnya mutu pendidikan di Indonesia bukan cuma tanggung jawab guru atau tenaga pengajar, tetapi termasuk tanggung jawab tenaga peneliti. Kembali pada pembahasan sebelumnya…. Saya jadi agak miris saat pencarian aku mengenai pembahasan arti etimologi ‘jati diri’ jadi beroleh jawabannya dalam buku asing (walaupun senantiasa tidak memuaskan). Ditulis oleh De-nin D. Lee, seorang sejarawan seni dan berspesialisasi dalam sejarah seni di Tiongkok. Judul bukunya Eco–Art History in East and Southeast Asia. Dalam buku tersebut De-nin D. Lee sedikit membahas etimologi ‘jati diri’ sebagai berikut: …kata “teak” barangkali besar berasal berasal dari Asia Selatan (Dravida). Dalam bahasa Melayu / Indonesia kayu itu disebut “Jati”. “Jati diri” dan “sejati” adalah kata-kata yang umum. Diri bermakna “self”; jati-diri sering diambil kesimpulan sebagai “identitas,” “kepribadian,” atau, paling tepatnya, esensi diri; dan sejati diambil kesimpulan sebagai “pure” (murni), “true” (benar), “authentic” (autentik), “original” (orisinal), “genuine” (asli). Pertanyaan mendasar aku “kenapa model kayu jati yang dijadikan ungkapan untuk sebutan ‘sejati’ ataupun ‘jati diri’, mengapa bukan model kayu lain,” pada akhirnya beroleh pencerahan saat mencermati sebutan ‘kayu jati’ dalam bahasa asing. Kata ‘Teak’ (jati) dalam bahasa Inggris ternyata berasal berasal dari bahasa Tamil ‘tekku’, bahasa Telugu ‘teku’, bahasa Malayalam ‘thekku’, bahasa Sinhala ‘thekka’, bahasa Kannada ‘tega’. Saya pikir, nampaknya kata ‘teguh’ dalam bahasa Indonesia berasal berasal dari sebutan jati dalam bahasa Tamil ‘tekku’ ataupun bahasa Telugu ‘teku’. Sifat kayu jati yang tahan air, dan khususnya sukar mengalami pelapukan karena mempunyai daya tahan yang tinggi, nampaknya yang jadi dasar ide orang-orang di masa selanjutnya untuk pakai ‘jati’ sebagai ungkapan untuk sifat dan sifat dasar manusia yang sebenarnya sukar berubah. Bentuk kata asing untuk jati; “tekku ataupun teku”, kemudian diserap ke dalam bahasa melayu (cikal dapat bahasa Indonesia) jadi kata ‘teguh’ – merupakan kata sifat yang dapat dikatakan dalam bahasa Indonesia, secara khusus digunakan untuk melukiskan sifat atau sifat manusia. Jadi, kata-kata seperti… “teguh dalam pendirian” bentuk kata-kata sastranya dapat jadi “jati dalam pendirian”. Dan mengenai penjelasan dalam KBBI online untuk kata ‘sejati’: /sejati /lihat 1jati – barangkali dapat dipertimbangkan bahwa imbuhan se- tidak dimaknai ‘1’, tetapi ‘seperti’. Jadi se-jati = seperti jati.

Related posts