Layanan Gesek Tunai Kartu Kredit Makin Marak

Selain untuk berbelanja, kartu kredit termasuk memberi tambahan fasilitas tarik tunai bagi para pengguna. Tarik tunai mampu dilakukan di anjungan tunai mandiri (ATM) terdekat.

Selain tarik tunai, pengguna kartu kredit termasuk mampu mengfungsikan fasilitas jasa gesek tunai (gestun) untuk mendapat suntikan dana segar.

Gestun online terpercaya merupakan aksi menarik sejumlah uang dengan cara menggesekkan kartu kredit ke mesin lewat electronic data capture (EDC)‎ di merchant khusus ataupun perorangan penyedia jasa gestun atau gesek tunai.

Dalam perihal ini, kartu kredit digesek untuk pembelian barang tertentu, namun yang di terima cuma sejumlah uang sebagai pengganti barang yang dibeli itu.

Layanan gestun kartu kredit sering dimanfaatkan Stevanus H. Ia mengaku udah beberapa kali menyambangi merchant yang sediakan fasilitas gestun, fungsi beroleh dana segar yang dibutuhkan. “Lebih mending gestun daripada tarik tunai di ATM,” ucapnya, kepada Tribun Jateng, baru-baru ini.

Menurut Evan, sapaannya, sebelum akan laksanakan gestun di merchant ia terutama dahulu menghubungi call center bank penerbit kartu kredit yang dipegang untuk menanyakan ongkos formal tarik tunai lewat ATM.

Dari info customer pelayanan bank plat merah itu diketahui ongkos administrasi tarik tunai sebesar 6 prosen bakal dibebankan di tagihan.

Sementara, jika laksanakan gestun di merchant, ia cuma dikenai ongkos administrasi sebesar 2,5 persen, lantaran ia mengambil alih uang tunai lebih dari Rp5 juta.

‎”Bagi aku ongkos administrasi enam prosen itu terlampau besar. Karena itu, aku tak memutuskan laksanakan tarik tunai via mesin ATM. Rata-rata bea admin gestun di kisaran 2-3 persen,” terangnya.

Tak cuma untuk kepentingan konsumtif, tak jarang Evan mengfungsikan uang dari gestun untuk diputar kembali, dengan sebutan lain dijadikan tambahan modal usaha.

Meski mempunyai gaji senantiasa bulanan sebagai karyawan swasta, ia termasuk nyambi usaha kecil-kecilan. “Kalau kembali perlu tambah modal cepet, ya kadang mengfungsikan gestun,” ujar pemilik usaha pengananan itu.
Tak ribet

Evan menyatakan, menaikkan modal usaha deng‎an uang tunai dari gestun lebih enteng dan tak ribet dibandingkan dengan mengajukan kredit ke bank. “Tak kudu jaminan, sistem cepat. Kalau tepat tersedia uang langsung dilunasi, menjadi temponya mampu kita atur sendiri,” bebernya.

‎Saat muncul kota, ia pun dulu gestun di sebuah merchant. Kala itu, ia kehabisan uang cash selagi berada di Bogor. Sementara, di rekening tabungan pun udah tak tersedia dana. “Ya mengfungsikan gestun sebagai dewa penolong,” tukasnya.
Meski demikian, selagi gestun di sebuah merchant di Kota Hujan itu, Evan kudu terutama dulu laksanakan pendaftaran. Ia tak menyadari kenapa tersedia mekanisme seperti itu.

Dari info pemilik merchant, menurut dia, perihal itu cuma digunakan sebagai database. “Diminta mengisi data dulu, menjadi tidak tiba-tiba berkunjung tetap kita langsung gesek,” urainya.

Hal sama dilakukan Tiyok Pribadi untuk beroleh uang sesuai dengan jumlah yang diperlukan. Layanan gestun biasa di sediakan toko atau merchant yang sediakan fasilitas mesin EDC.

Di Semarang pun, menurut dia, keberadaannya terlampau banyak. Biasannya, pihak penyedia gestun mempunyai toko.

“Kalau yang tidak mempunyai toko biasanya di rumah-rumah. Kalau aku biasa gestun di toko batik dan daerah gestunnya tersedia di lantai dua. Sedangkan di luar toko biasanya tersedia postingan jasa gesek dan pelunasan, seperti di daerah belakang Ace Hardware Simpanglima Semarang,” ucapnya.

Dalam transaksi, penyedia praktek gestun bakal menanyakan berapa jumlah dana yang dibutuhkan, serta potongan administrasinya dijadikan satu dengan total gesek atau di luar total gesek.

“Jadi aku cuma menerima uang dan struk bukti. Di struk tersedia postingan nama perusahaannya seperti travel, butik, atau toko elektronik,” jelasnya.
Terang-terangan

Tiyok berangggapan, praktek gestun bukan merupakan tindakan penipuan atau mengelabuhi sistem. Pasalnya, penyedia fasilitas gestun berani terang-terangan pakai MMT di depan lapak mereka.

“Kalau yang di rumah-rumah cuma tersedia MMT kecil dan biasanya mereka pakai iklan di koran,” ujar warga Indraprasta, Semarang itu.

Tiyok menuturkan, transaksi yang biasanya difiktifkan adalah pembelian baju, elektronik, dan travel agen. Kalau di daerah biasa gestun, Tiyok sering dibikin membayar travel agent seperti seolah-olah belanja tiket atau paket wisata.

“Jadi tidak kelihatan aneh untuk transaksinya. Masak jika membeli baju, bulan ini membeli pakaian Rp 2 juta, bulan depan membeli pakaian Rp 3 juta kan tidak wajar,” imbuhnya.

Soal ongkos gestun, Tiyok bercerita, normalnya dikenai tarif kira-kira 3-5 prosen dari tiap transaksi. Pemilik toko atau penyedia gestun termasuk sepanjang ini tidak dulu menaikkan ongkos meski di hari peak season seperti Ramadan selagi ini.

“Soal ongkos tidak dulu berubah-ubah, senantiasa di kisaran 3-5 prosen dari tiap transaksi. Hanya saja seperti Ramadan ini banyak yang laksanakan gestun dan dana yang disiapkan pemilik gestun termasuk bertambah,” paparnya.

Ia mengungkapkan, kartu kredit tiap bank mempunyai banyak fitur seperti bebas iuran tahunan, tiga tahunan, atau bebas iuran tahunan selamanya. Fasilitas kartu kredit hampir mirip, yaitu belanja gesek langsung, tarik tunai, dan gesek tunai.

Namun untuk tarik tunai, tiap kartu kredit mempunyai limit tersendiri, perumpamaan kartu kredit dengan limit Rp 10 juta, bisa saja mampu tarik tunai cuma Rp 4 juta-Rp 5 juta.

Sementara, gestun sering digunakan sebab pemilik kartu seolah belanja dan ia beroleh uangnya. Hanya saja kelemahannya terkena charge toko yang dibebankan kepada pelaku gestun.

Related posts