Legenda Buaya Putih di Situs Lawang Sanga Cirebon

1 min read

situs lawang sanga cirebon

Bermacam situs warisan riwayat Cirebon masih kelihatan tegak berdiri. Seperti Situs Lawang Sanga di Daerah Mandalangan Kelurahan Kasepuhan Kecamatan Kurang kuatwungkuk Kota Cirebon di muka sungai Kriyan Cirebon.

Ada di belakang Keraton Kasepuhan Cirebon, situs Lawang Sanga sebagai bangunan yang mempunyai sembilan pintu. Satu pintu ada di depan, empat pintu ada di samping, tiga pintu ada di belakang, dan satu pintu ada di tengah.

Dalam perkembangannya muncul cerita rakyat dari  situs Lawang Sanga di lingkungan warga Cirebon, yaitu timbulnya figur buaya putih antara Sungai Kriyan dan situs Lawang Sanga.

Warga yakini, buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan itu dipercaya sebagai penjaga situs Lawang Sanga.

“Buaya putih tidak buas karena dipercaya sebagai sumpah oleh Sultan,” tutur juru Kunci Lawang Sanga Cirebon Suwari (71).

buaya putih

Ia bercerita buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan sebagai jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya.

Dijumpai, anak dari Sultan Syamsudin yang disumpah jadi buaya putih namanya Elang Angka Wijaya. Ia menjelaskan, disumpahnya Elang Angka Wijaya jadi siluman buaya putih karena saat di dunia ia tak pernah taat pada perintah ayahnya.

“Elang Angka Wijaya ini mempunyai rutinitas jika makan sekalian berbaring, tungkurap. Sultan selalu memberi tahu supaya tidak semacam itu tetapi sering diacuhkan. Sampai pada akhirnya sultan berkata anaknya jika makan telungkup seperti buaya. Perkataan orang dahulu kan mujarab,” sebut tutur ia. ‎

Semenjak menjelma jadi buaya putih, Elang Angka Wijaya hidup di lingkungan di salah satunya kolam yang ada di salah satunya bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon. Tetapi, mencapai umur dewasa, buaya putih itu berpindah ke teritori Sungai Kriyan.

Menurutnya, narasi rakyat berkenaan buaya putih di Cirebon ini jadi pelajaran penting di kehidupan setiap hari. Sampai sekarang ini, warga sekitaran Sungai Kriyan masih mempercayai dogma buaya putih itu.

Bahkan juga, ada adat tertentu saat warga sekitaran menyaksikan buaya putih. “Lempar tumpengan ke sungai jika ada warga yang menyaksikan buaya putih. Sama jaga lingkungan,” katanya.

Filosofi 9 Pintu

Dikuasai warna putih dan merah, Lawang Sanga dijumpai sebagai salah satunya bangunan monumental berkaitan mekanisme pengangkutan upeti pada jaman kesultanan Cirebon.

“Terdaftar jika Lawang Sanga dibuat oleh Pangeran Wangsakerta pada zaman Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya tahun 1677 masehi,” tutur Lurah Keraton Kasepuhan Cirebon Mohammad Maskun, Rabu, 12 September 2018.

Ia menjelaskan, Lawang Sanga mempunyai peranan sebagai syahbandar dan pintu masuk tamu atau utusan kerajaan-kerajaan dari Nusantara pada jaman dahulu.

Waktu itu, pada jaman kesultanan Cirebon, pengangkutan upeti dari beberapa tamu lewat Lawang Sanga. Ia menerangkan, jumlah pintu yang berada di Lawang Sanga sebagai lambang sembilan lubang di badan manusia.

“Lubang hidung, mulut, telinga, mata, dubur, dan kelamin. Maknanya mempunyai nilai filosofis masalah kehidupan. Sembilan ini dipandang seperti angka prima,” sebut Maskun. ‎Beragam acara ritus sering diadakan dalam tiap peristiwa tertentu seperti Maulidan dan Kliwonan, terhitung ritus sedekah bumi di bulan 1 Suro.